Blog
Dalil-Dalil Adanya Azab Kubur dalam Al-Qur’an dan Sunnah
- Juni 2, 2026
- Posted by: Ahmad Ubaidillah Nasiden
- Category: Fiqih
Abstrak
Azab kubur merupakan bagian dari perkara gaib yang ditetapkan dalam akidah Islam. Ia berhubungan dengan kehidupan barzakh, yaitu fase antara kematian dan hari kebangkitan. Artikel ini membahas dalil-dalil adanya azab kubur berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah. Kajian ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan sejumlah isyarat kuat tentang adanya azab sebelum hari kiamat, seperti azab yang menimpa Fir‘aun dan kaumnya, azab bagi kaum munafik, serta penderitaan orang kafir saat dicabut nyawanya. Sunnah Nabi ﷺ kemudian menjelaskan perkara ini secara lebih rinci melalui hadis-hadis sahih tentang doa perlindungan dari azab kubur, dua penghuni kubur yang sedang disiksa, fitnah kubur, dan pertanyaan malaikat. Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa hadis-hadis tentang azab kubur mencapai derajat mutawatir secara makna. Dengan demikian, keyakinan terhadap azab kubur bukanlah perkara sekunder yang lemah landasannya, melainkan bagian dari akidah Islam yang berdiri di atas dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak ulama Ahlus Sunnah.
Kata kunci: azab kubur, barzakh, akidah, Al-Qur’an, Sunnah.
Pendahuluan
Kematian dalam pandangan Islam bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Ia merupakan perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan barzakh sebelum datangnya hari kebangkitan. Di alam barzakh, manusia akan mendapatkan balasan awal atas keimanan dan amalnya. Sebagian mendapatkan nikmat, dan sebagian lain mendapatkan azab. Inilah yang dikenal dalam khazanah akidah Islam sebagai nikmat kubur dan azab kubur.
Pembahasan azab kubur termasuk bagian dari masalah sam‘iyyat, yaitu perkara-perkara gaib yang diketahui melalui wahyu. Akal manusia tidak mampu menjangkau hakikat dan tata cara azab kubur secara mandiri. Oleh karena itu, pembahasan ini harus dikembalikan kepada dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.
Sebagian kalangan menolak azab kubur dengan alasan bahwa istilah “azab kubur” tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Pandangan ini tidak tepat, sebab banyak ajaran Islam yang disebutkan secara global dalam Al-Qur’an lalu dijelaskan secara terperinci oleh Sunnah Nabi ﷺ. Shalat, zakat, haji, dan berbagai hukum syariat lainnya tidak dijelaskan seluruh rinciannya dalam Al-Qur’an, tetapi diterangkan oleh Nabi ﷺ melalui Sunnahnya. Demikian pula masalah azab kubur. Al-Qur’an memberikan dasar dan isyarat yang kuat, sedangkan Sunnah menjelaskannya secara rinci.
Artikel ini bertujuan menguraikan dalil-dalil adanya azab kubur dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjelaskan kedudukannya dalam pemahaman ulama Ahlus Sunnah.
Pengertian Azab Kubur
Azab kubur adalah azab yang Allah timpakan kepada sebagian manusia setelah kematian dan sebelum hari kebangkitan. Istilah ini juga disebut azab barzakh, sebab yang dimaksud bukan semata-mata azab di lubang kubur secara fisik, tetapi azab pada fase antara kematian dan kiamat.
Karena itu, seseorang tetap dapat mengalami azab barzakh meskipun jasadnya tidak dikuburkan, seperti orang yang tenggelam, terbakar, dimakan binatang buas, atau hancur jasadnya. Allah Mahakuasa untuk menyampaikan azab kepada ruh dan jasad sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini termasuk perkara gaib yang wajib diimani tanpa menanyakan secara berlebihan tentang bagaimana hakikatnya.
Ibnu Abil ’Izz al-Hanafi menjelaskan bahwa azab kubur adalah azab barzakh. Setiap orang yang meninggal dalam keadaan berhak mendapatkan azab akan memperoleh bagiannya, baik ia dikuburkan maupun tidak. Adapun tata cara kembalinya ruh kepada jasad di alam barzakh bukan seperti kembalinya ruh kepada jasad dalam kehidupan dunia.
Dalil-Dalil Azab Kubur dari Al-Qur’an
1. Azab Fir‘aun dan kaumnya sebelum kiamat
Dalil Al-Qur’an yang paling jelas tentang azab barzakh adalah firman Allah:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan: ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’”
QS. Ghafir: 46.
Ayat ini membedakan antara dua fase azab. Fase pertama adalah ketika Fir‘aun dan kaumnya diperlihatkan kepada neraka pada pagi dan petang. Fase kedua adalah ketika hari kiamat datang dan mereka dimasukkan ke dalam azab yang lebih keras.
Pembedaan ini menunjukkan bahwa sebelum kiamat pun sudah ada azab yang mereka rasakan. Karena mereka telah mati tenggelam, maka azab yang disebutkan sebelum hari kiamat itu adalah azab barzakh. Oleh sebab itu, para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil terkuat tentang adanya azab kubur.
Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai dasar besar bagi Ahlus Sunnah dalam menetapkan adanya azab barzakh. Al-Qurthubi juga menukil bahwa jumhur ulama memahami penampakan neraka kepada Fir‘aun dan kaumnya dalam ayat ini sebagai kejadian di alam barzakh.
2. Dua kali azab bagi kaum munafik
Allah berfirman:
سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
“Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka dikembalikan kepada azab yang besar.”
QS. at-Taubah: 101.
Ayat ini menyebutkan adanya dua azab sebelum azab besar di akhirat. Para mufasir menjelaskan bahwa salah satu dari dua azab tersebut adalah azab kubur. Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij menafsirkan dua azab tersebut sebagai azab dunia dan azab kubur. Setelah itu, mereka dikembalikan kepada azab yang besar, yaitu azab neraka pada hari kiamat.
Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum azab akhirat, terdapat bentuk azab lain yang Allah timpakan kepada orang-orang munafik. Hal ini menjadi salah satu dasar adanya azab barzakh.
3. Azab ketika pencabutan nyawa orang kafir
Allah berfirman:
وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
“Seandainya engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir, mereka memukul wajah dan punggung mereka seraya berkata: ‘Rasakanlah azab yang membakar.’”
QS. al-Anfal: 50.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang kafir mulai mendapatkan azab sejak proses pencabutan nyawa. Para malaikat memukul wajah dan punggung mereka, lalu dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab yang membakar.” Peristiwa ini terjadi sebelum hari kiamat, sehingga termasuk dalil adanya azab sebelum akhirat.
Makna yang sama juga terdapat dalam firman Allah:
فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ
“Maka bagaimana keadaan mereka apabila malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?”
QS. Muhammad: 27.
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa siksa bagi orang kafir dapat dimulai sejak kematian, bukan hanya setelah kebangkitan.
4. Azab kehinaan pada saat sakaratul maut
Allah berfirman:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ
“Seandainya engkau melihat ketika orang-orang zalim berada dalam sakaratul maut, sedangkan para malaikat membentangkan tangan mereka seraya berkata: ‘Keluarkanlah nyawamu. Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan.’”
QS. al-An‘am: 93.
Kalimat “pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan” menunjukkan bahwa balasan azab sudah dimulai sejak kematian. Ini bukan semata-mata azab akhirat, sebab konteks ayat berbicara tentang keadaan orang zalim ketika sakaratul maut. Dengan demikian, ayat ini menjadi salah satu dalil bahwa setelah kematian terdapat bentuk azab sebelum hari kiamat.
5. Kehidupan barzakh bagi para syuhada
Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah engkau mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki.”
QS. Ali ’Imran: 169.
Ayat ini menetapkan adanya kehidupan setelah mati sebelum hari kiamat bagi para syuhada. Mereka hidup di sisi Allah dan mendapatkan rezeki. Jika nikmat barzakh dapat terjadi sebelum hari kebangkitan, maka secara prinsip azab barzakh juga dapat terjadi bagi orang-orang yang berhak mendapatkannya.
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan barzakh adalah kehidupan yang nyata, meskipun hakikatnya berbeda dari kehidupan dunia dan tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia.
6. Keteguhan orang beriman di alam kubur
Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
QS. Ibrahim: 27.
Nabi ﷺ menafsirkan ayat ini berkaitan dengan pertanyaan di alam kubur. Seorang mukmin akan diberi keteguhan oleh Allah untuk menjawab pertanyaan malaikat. Ia ditanya tentang Rabb, agama, dan nabinya. Apabila ia menjawab dengan benar, ia mendapatkan nikmat. Adapun orang zalim dan kafir tidak diberi keteguhan, sehingga mendapatkan azab.
Dengan demikian, ayat ini menjadi dalil tentang adanya fitnah kubur, pertanyaan malaikat, serta nikmat dan azab kubur.
7. Kehidupan setelah mati bagi orang yang gugur di jalan Allah
Allah berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
QS. al-Baqarah: 154.
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan barzakh tidak harus dapat dirasakan oleh manusia yang masih hidup. Manusia melihat jasad para syuhada telah mati, tetapi Allah mengabarkan bahwa mereka hidup. Ini menunjukkan bahwa keterbatasan indra manusia tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak perkara barzakh.
Atas dasar ini, tidak terlihatnya azab kubur oleh manusia bukanlah dalil untuk menafikannya. Sebab, alam barzakh termasuk perkara gaib yang hanya diketahui melalui wahyu.
Dalil-Dalil Azab Kubur dari Sunnah
1. Doa Nabi ﷺ berlindung dari azab kubur
Di antara dalil paling tegas tentang adanya azab kubur adalah doa Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.”
Doa ini diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih. Nabi ﷺ mengajarkan umatnya agar berlindung dari azab kubur, khususnya dalam shalat. Seandainya azab kubur tidak ada, tentu Nabi ﷺ tidak akan berlindung darinya dan tidak akan mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan darinya.
Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berdoa dalam shalat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dari fitnah al-Masih ad-Dajjal, dari fitnah kehidupan, dan dari fitnah kematian.”
Hadis ini menunjukkan bahwa azab kubur adalah perkara nyata yang perlu dimintakan perlindungan kepada Allah.
2. Hadis dua penghuni kubur yang sedang disiksa
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ؛ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena perkara yang mereka anggap besar. Adapun salah satunya, ia tidak menjaga diri dari kencing. Adapun yang lain, ia berjalan melakukan adu domba.”
HR. al-Bukhari dan Muslim.
Hadis ini sangat jelas menunjukkan adanya azab kubur. Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa keduanya akan disiksa kelak di akhirat, tetapi menyatakan bahwa keduanya sedang disiksa. Hal ini menunjukkan bahwa azab tersebut terjadi di alam kubur sebelum hari kebangkitan.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa sebagian dosa yang tampak ringan di mata manusia dapat menjadi sebab azab kubur, seperti tidak menjaga diri dari najis kencing dan melakukan namimah atau adu domba.
3. Hadis pertanyaan malaikat di kubur
Dalam hadis al-Bara’ bin ’Azib radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ menjelaskan keadaan manusia setelah dikuburkan. Seorang mukmin akan didatangi dua malaikat, lalu ditanya tentang Rabb, agama, dan nabinya. Allah meneguhkannya sehingga ia mampu menjawab: Rabbku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad ﷺ. Setelah itu, dibukakan baginya pintu menuju surga, dilapangkan kuburnya, dan ia mendapatkan kenikmatan.
Adapun orang kafir atau munafik tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Ia hanya mengatakan, “Aku tidak tahu.” Kemudian ia mendapatkan azab, disempitkan kuburnya, dan dibukakan baginya pintu menuju neraka.
Hadis ini menunjukkan adanya tiga perkara besar di alam kubur: pertanyaan malaikat, nikmat bagi orang beriman, dan azab bagi orang kafir atau munafik.
4. Hadis Aisyah tentang penghuni kubur yang disiksa
Aisyah radhiyallahu ’anha meriwayatkan bahwa dua wanita tua dari Yahudi Madinah pernah masuk menemuinya. Keduanya mengatakan bahwa penghuni kubur disiksa di dalam kubur mereka. Aisyah semula tidak menerima ucapan tersebut. Kemudian Rasulullah ﷺ datang, lalu Aisyah menanyakan hal itu kepada beliau. Nabi ﷺ menjawab bahwa keduanya benar, dan bahwa penghuni kubur disiksa dengan azab yang dapat didengar oleh hewan.
Setelah itu, Aisyah radhiyallahu ’anha menyebutkan bahwa ia tidak melihat Nabi ﷺ melaksanakan shalat kecuali beliau berlindung dari azab kubur.
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membenarkan adanya azab kubur dan membiasakan diri berlindung kepada Allah darinya.
5. Hadis fitnah kubur
Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ’anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdiri menyampaikan khutbah, lalu menyebutkan fitnah kubur yang akan dialami manusia. Ketika kaum muslimin mendengarnya, mereka merasa sangat takut.
Hadis ini menunjukkan bahwa fitnah kubur merupakan perkara besar. Fitnah kubur mencakup ujian pertanyaan malaikat dan keadaan manusia setelah kematian. Orang yang beriman akan diberi keteguhan, sedangkan orang munafik dan kafir akan tersesat dalam jawabannya.
6. Hadis tentang diperlihatkannya tempat kembali manusia
Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila meninggal, akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada pagi dan petang. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Jika ia termasuk penghuni neraka, maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Lalu dikatakan kepadanya: Inilah tempatmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”
HR. al-Bukhari dan Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa setelah kematian dan sebelum hari kiamat, seseorang telah mendapatkan sebagian balasan. Penghuni surga diperlihatkan tempatnya di surga sebagai kenikmatan, sedangkan penghuni neraka diperlihatkan tempatnya di neraka sebagai bentuk azab dan ancaman.
7. Hadis doa Nabi ﷺ atas musuh dalam Perang Khandaq
Dalam Perang Khandaq, Rasulullah ﷺ pernah mendoakan kaum musyrikin yang menghalangi kaum muslimin dari shalat Ashar:
مَلَأَ اللَّهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا
“Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kubur-kubur mereka dengan api.”
HR. al-Bukhari dan Muslim.
Doa Nabi ﷺ agar kubur mereka dipenuhi api menunjukkan bahwa azab dapat terjadi di kubur. Jika tidak ada azab kubur, tentu penyebutan kubur dalam doa tersebut tidak memiliki makna yang kuat.
Kedudukan Azab Kubur Menurut Ulama Ahlus Sunnah
Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan bahwa azab kubur adalah benar. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak ulama.
Imam asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa iman kepada azab kubur, haudh, syafaat, keluarnya Dajjal, serta pertanyaan Munkar dan Nakir adalah benar. Imam Ahmad bin Hanbal juga memasukkan iman kepada azab kubur dalam pokok-pokok Sunnah. Abu al-Hasan al-Asy‘ari menukil adanya ijmak bahwa azab kubur adalah benar. Ibnu Abdil Barr menyatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama‘ah membenarkan fitnah kubur dan azab kubur karena banyaknya riwayat dari Nabi ﷺ tentang hal tersebut.
An-Nawawi menegaskan bahwa mazhab Ahlus Sunnah menetapkan adanya azab kubur, dan dalil-dalil Al-Qur’an serta Sunnah telah saling menguatkan dalam perkara ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa hadis-hadis tentang azab kubur dan pertanyaan Munkar-Nakir sangat banyak dan mutawatir.
Dengan demikian, azab kubur bukanlah masalah yang hanya bersandar pada satu atau dua riwayat, melainkan perkara yang ditetapkan oleh banyak nash dan diterima oleh para ulama Ahlus Sunnah.
Menjawab Syubhat: Mengapa Azab Kubur Tidak Terlihat?
Salah satu syubhat yang sering dikemukakan adalah bahwa manusia tidak melihat atau mendengar azab kubur. Karena itu, sebagian orang mengingkarinya. Jawaban terhadap syubhat ini adalah bahwa azab kubur termasuk perkara gaib. Kebenarannya tidak bergantung pada kemampuan manusia untuk melihat atau mendengarnya.
Banyak perkara yang nyata tetapi tidak selalu dapat disaksikan oleh manusia. Orang yang tidur, misalnya, dapat merasakan kenikmatan atau ketakutan dalam mimpinya. Tubuhnya tampak diam di hadapan orang lain, tetapi ia sendiri merasakan pengalaman tertentu. Jika hal seperti ini mungkin terjadi dalam kehidupan dunia, maka lebih mungkin lagi terjadi di alam barzakh yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh indra manusia.
Selain itu, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa para syuhada hidup di sisi Allah, tetapi manusia tidak menyadarinya. Allah berfirman:
بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
QS. al-Baqarah: 154.
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak dirasakannya suatu perkara oleh manusia tidak berarti perkara itu tidak ada. Alam barzakh memiliki aturan yang berbeda dari alam dunia.
Kesimpulan
Azab kubur merupakan bagian dari akidah Islam yang wajib diimani. Al-Qur’an menunjukkan adanya azab sebelum hari kiamat melalui sejumlah ayat, seperti azab Fir‘aun dan kaumnya yang diperlihatkan kepada neraka pagi dan petang, dua kali azab bagi kaum munafik, serta azab orang kafir ketika dicabut nyawanya. Ayat-ayat tentang kehidupan para syuhada juga membuktikan adanya kehidupan barzakh sebelum hari kebangkitan.
Sunnah Nabi ﷺ menjelaskan perkara ini secara lebih rinci. Hadis-hadis sahih menyebutkan doa Nabi ﷺ berlindung dari azab kubur, dua penghuni kubur yang sedang disiksa, pertanyaan malaikat di kubur, fitnah kubur, serta diperlihatkannya tempat kembali manusia setelah kematian. Para ulama Ahlus Sunnah pun sepakat menetapkan adanya azab kubur dan menganggapnya sebagai bagian dari perkara akidah yang bersumber dari wahyu.
Oleh karena itu, mengimani azab kubur merupakan konsekuensi dari keimanan kepada Allah, hari akhir, dan kebenaran berita yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Sikap seorang muslim adalah membenarkan apa yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah, memohon perlindungan kepada Allah dari azab kubur, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah kematian.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Asy‘ari, Abu al-Hasan. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Beirut: al-Maktabah al-’Ashriyyah.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
Ibnu Abil ’Izz al-Hanafi. Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyyah. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
Ibnu Abdil Barr. At-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma‘ani wa al-Asanid. Maroko: Wizarah ’Umum al-Awqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyyah.
Ibnu Katsir, Isma‘il bin Umar. Tafsir al-Qur’an al-’Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.
Ibnu Rajab al-Hanbali. Ahwal al-Qubur wa Ahwal Ahliha ila an-Nusyur. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu‘ al-Fatawa. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Dar as-Salam.
Asy-Syafi‘i, Muhammad bin Idris. Manaqib asy-Syafi‘i. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Ahmad bin Hanbal. Ushul as-Sunnah. Riyadh: Dar al-Manar.
Wujudkan Amal Jariyah Anda Hari Ini
Ikut serta dalam pembangunan Pendidikan Al Mahbaroh — mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
🌱 Jadikan ini investasi terbaik untuk akhirat Anda
Setiap kontribusi Anda sangat berarti bagi masa depan generasi Islam