Blog
Dalil dan Fatwa Ulama Klasik tentang Boikot Produk Pro-Zionis
- September 19, 2026
- Posted by: Ahmad Ubaidillah Nasiden
- Category: Fiqih
Tidak ada komentar
Dalil dan Fatwa Ulama Klasik tentang Boikot Produk Pro-Zionis
Disusun oleh: Ahmad Ubaidillah Nasiden
Dalil-dalil al-Quran:
Allah berfirman:
تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ، وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
QS al-Mā’idah: 2
ِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai pihak yang didukung orang-orang yang memerangi kamu, mengusir kamu dari negeri kamu, dan membantu pengusiran kamu.”
QS al-Mumtaḥanah: 9
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
QS Hūd: 113
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?”
QS al-Nisā’: 75
Dalil-dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada pihak yang menzaliminya.”
HR al-Bukhārī no. 2442
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu, baik ia menzalimi maupun dizalimi.”
Ketika ditanya cara menolong orang yang zalim, beliau menjawab:
تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ
“Engkau menahan tangannya dari berbuat zalim.”
HR al-Bukhārī no. 2444
Setelah masuk Islam, Ṡumāmah bin Uṡāl berkata kepada Quraisy:
لَا وَاللَّهِ، لَا يَأْتِيكُمْ مِنَ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ ﷺ
“Demi Allah, tidak akan datang kepada kalian sebutir gandum pun dari Yamāmah sampai Nabi ﷺ mengizinkannya.”
HR al-Bukhārī no. 4372
Penjelasan Ibnu Hajar (w. 852 H):
زاد ابن هشام ” ثم خرج إلى اليمامة فمنعهم أن يحملوا إلى مكة شيئا ، فكتبوا إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – : إنك تأمر بصلة الرحم ، فكتب إلى ثمامة أن يخلي بينهم وبين الحمل إليهم ” .
Ibnu Hisyām menambahkan:
“Kemudian Tsumāmah pergi ke Yamāmah. Lalu ia melarang penduduknya mengirimkan apa pun ke Makkah.
Maka penduduk Makkah menulis surat kepada Nabi ﷺ:
‘Sesungguhnya engkau memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan.’
Lalu Nabi ﷺ menulis surat kepada Tsumāmah agar ia membiarkan mereka mengirimkan bahan makanan kepada penduduk Makkah.”
Lihat: Fath al-Bari cet. Dar ar-Rayyan 7/690
Nukilan Fatwa Ulama’
Diriwayatkan dalam Sunan Sa‘īd ibn Manṣūr:
عَنِ الْحَسَنِ فِيمَنْ يَحْمِلُ الطَّعَامَ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ، فَقَالَ: أُولَئِكَ هُمُ الْفُسَّاقُ.
“Dari al-Ḥasan (w. 110 H), mengenai orang yang membawa makanan ke wilayah musuh, beliau berkata: ‘Mereka itulah orang-orang fasik.’”
Setelahnya diriwayatkan perkataan ‘Aṭā’ ibn Abī Rabāḥ (w. 114 H):
أَمَّا مَا يَقْوَوْنَ بِهِ لِلْقِتَالِ فَلَا يُحْمَلُ إِلَيْهِمْ، وَأَمَّا غَيْرُهُ فَلَا بَأْسَ.
“Adapun sesuatu yang dengannya mereka menjadi kuat untuk berperang, maka tidak boleh dibawa kepada mereka. Adapun selain itu, tidak mengapa.”
Sumber: Sunan Sa‘īd ibn Manṣūr, no. 2638–2639, bab التجارة في أرض العدو وحمل السلاح والطعام.
Al-Lakhmī (w. 478 H) menukil pendapat Imam Mālik (w. 174 H):
وَلَا يُبَاعُ لِأَهْلِ الْحَرْبِ شَيْءٌ مِمَّا يَتَقَوَّوْنَ بِهِ فِي حُرُوبِهِمْ، مِنْ كُرَاعٍ أَوْ سِلَاحٍ أَوْ خُرْثِيٍّ أَوْ نُحَاسٍ.
“Tidak boleh dijual kepada pihak yang memerangi kaum Muslimin sesuatu yang dapat memperkuat mereka dalam peperangan, berupa hewan tunggangan, senjata, perlengkapan, ataupun tembaga.”
Kemudian menukil ucapan Ibnu Habib (w. 238 H):
وقال ابن حبيب -في أهل العهد وتجار الحربيين: يمنعون من حمل السلاح والحرير والحديد والنحاس، والأدم والخيل والبغال والحمير، والغرائر والأخرجة والزفت والقطران، والشمع واللحم والسروج والمهامز، والبسط والكتان والصوف، والطعام من القمح والشعير. يريد: في الطعام في مثل الشدائد، يرجى تمنعهم أن يتمكن منهم. وأما الحرير والصوف والكتان والملابس فالأمر فيه خفيف، ولا يتجر إليهم بما كان من العبيد من دينهم، وإن قدموا إلينا لم يباعوا منهم؛ لاطلاعهم على عورة بلاد المسلمين، وهو في النساء أخف.
Ibnu Ḥabīb berkata mengenai ahl al-‘ahd dan para pedagang dari kalangan ḥarbī:
“Mereka dicegah membawa senjata, sutra, besi, tembaga, kulit samakan, kuda, bagal, keledai, karung-karung besar, kantong-kantong barang, ter, aspal, lilin, daging, pelana, taji, permadani, linen, wol, serta bahan makanan berupa gandum dan jelai.
Maksudnya, mengenai bahan makanan, larangan itu berlaku dalam keadaan-keadaan sulit semisal masa krisis, ketika dengan menahan bahan makanan tersebut diharapkan mereka tidak menjadi kuat karenanya.
Adapun sutra, wol, linen, dan pakaian, maka urusannya lebih ringan.
Tidak boleh pula diperdagangkan kepada mereka budak-budak yang seagama dengan mereka. Jika para budak itu datang ke negeri kita, mereka juga tidak boleh dijual kepada mereka, karena dikhawatirkan mereka akan mengetahui bagian-bagian lemah dan rahasia negeri kaum muslimin.
Adapun dalam hal budak perempuan, hukumnya lebih ringan.”
Lihat: al-Tabṣirah, jld. 9, hlm. 4307.
Ibn Rusyd al-Jadd (w. 520 H) berkata:
فَوَاجِبٌ عَلَى وَالِي الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَمْنَعَ مِنَ الدُّخُولِ إِلَى أَرْضِ الْحَرْبِ لِلتِّجَارَةِ، وَيَضَعَ الْمَرَاصِدَ فِي الطُّرُقِ وَالْمَسَالِحِ لِذَلِكَ، حَتَّى لَا يَجِدَ أَحَدٌ السَّبِيلَ إِلَى ذَلِكَ، لَا سِيَّمَا إِنْ خَشِيَ أَنْ يُحْمَلَ إِلَيْهِمْ مَا لَا يَحِلُّ بَيْعُهُ مِنْهُمْ، مِمَّا هُوَ قُوَّةٌ عَلَى أَهْلِ الْإِسْلَامِ، لِاسْتِعَانَتِهِمْ بِهِ فِي حُرُوبِهِمْ.
“Penguasa kaum Muslimin wajib mencegah orang memasuki wilayah musuh untuk berdagang, serta menempatkan pos-pos pengawasan di jalan dan perbatasan agar tidak ada yang dapat melakukannya; terlebih apabila dikhawatirkan akan dibawa kepada mereka barang yang tidak boleh dijual kepada mereka, yakni sesuatu yang menjadi kekuatan untuk menghadapi kaum Muslimin dan mereka manfaatkan dalam peperangan.”
Sumber: Ibn Rusyd al-Jadd, al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt, jld. 2, hlm. 154.
Fatwa ‘Abdullāh bin ‘Umar bin Abī Bakr bin Yaḥyā (w. 1265 H)
(مسألة : ي) : كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشيء يستعمل في مباح وغيره ، فإن علم أو ظنّ أن آخذه يستعمله في مباح كأخذ الحرير لمن يحل له ، والعنب للأكل ، والعبد للخدمة ، والسلاح للجهاد والذب عن النفس ، والأفيون والحشيشة للدواء والرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة ، وإن ظن أنه يستعمله في حرام كالحرير للبالغ ، ونحو العنب للسكر ، والرقيق للفاحشة ، والسلاح لقطع الطريق والظلم ، والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخذِّر حرمت هذه المعاملة ، وإن شكّ ولا قرينة كرهت ، وتصحّ المعاملة في الثلاث ، لكن المأخوذ في مسألة الحرمة شبهته قوية ، وفي مسألة الكراهة أخف.
Masalah: Setiap transaksi, seperti jual beli, hibah, nazar, dan sedekah, terhadap sesuatu yang dapat digunakan untuk perkara yang mubah maupun yang lainnya, maka:
Jika diketahui atau diduga bahwa orang yang menerimanya akan menggunakannya untuk perkara yang mubah, seperti mengambil sutra bagi orang yang halal memakainya, anggur untuk dimakan, budak untuk pelayanan, senjata untuk jihad dan membela diri, serta opium dan ganja untuk pengobatan dan pemanfaatan yang ringan, maka transaksi tersebut halal tanpa kemakruhan.
Jika diduga bahwa ia akan menggunakannya untuk perkara haram, seperti sutra bagi laki-laki dewasa, anggur dan semisalnya untuk membuat minuman memabukkan, budak untuk perbuatan keji, senjata untuk perampokan dan kezaliman, serta opium, ganja, dan pala untuk digunakan sebagai zat yang memabukkan atau membius, maka transaksi tersebut haram.
Jika masih diragukan dan tidak ada petunjuk yang menguatkan salah satu kemungkinan, maka transaksi itu makruh.
Transaksi tersebut tetap sah dalam ketiga keadaan itu. Akan tetapi, barang yang diterima dalam kasus yang haram memiliki unsur syubhat yang kuat, sedangkan dalam kasus makruh unsur syubhatnya lebih ringan.
Lihat: Bughyah al-Mustarsyidin 1/260
Wujudkan Amal Jariyah Anda Hari Ini
Ikut serta dalam pembangunan Pendidikan Al Mahbaroh — mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
⏳ Kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali
🌱 Jadikan ini investasi terbaik untuk akhirat Anda
🌱 Jadikan ini investasi terbaik untuk akhirat Anda
Setiap kontribusi Anda sangat berarti bagi masa depan generasi Islam